Adab bertelepon dalam Islam

Di era komunikasi modern saat ini, seorang individu tidak lepas dari alat komunikasi seluler yaitu telepon genggam. Selain itu, komunikasi tidak langsung merupakan kegiatan yang lazim dikarenakan tatap muka jarang sekali dilakukan sebelum mengontak yang bersangkutan, misalnya sms ataupun menelepon langsung.

Mengenai komunikasi dengan cara menelpon, ada panduan tatacara islam, yang biasanya disebut adab bertelepon. Saya sarikan beberapa adab bertelepon dari Dialog Jumat Koran Republika yang sering saya baca baik di kantor, dan kadang juga dibagikan di Masjid UI setiap Jumat.

Beberapa hal yang sempat tercatat antara lain adalah adab menurut ulama terkemuka Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuuatul Aadaab al-lstamiyah mengungkapkan sejumlah tata cara yang perlu diperhatikan seorang Muslim saat bertelepon.

Pertama, gunakan telepon dalam ketaatan kepada Allah SWT. Telepon dipakai untuk menghubungi karib kerabat, saudara, teman-teman dan tetangga untuk menanyakan keadaan dan kesehatan mereka. Bertelepon, kata dia, dapat menghemat waktu untuk berkunjung. “Berkomunikasi lewat telepon termasuk salah satu bentuk silaturahim dan kebaikan yang tak sulit dilakukan,” ungkapnya.

Kedua, jangan gunakan telepon untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Bentuk-bentuk kemaksiatan yang dilarang saat menggunakan telepon, kata Syekh Sayyid Nada antara lain mencaci dan memaki orang lain, berpacaran, menipu, serta meneror orang lain.

Ketiga, tak menggunakan telepon untuk mengganggu orang lain. Syekh Sayyid Nada mengingatkan agar umat Muslim tak menggunakan telepon dengan cara yang bisa membahayakan keselamatan diri dan orang lain. Syekh Sayyid Nada, menegaskan, agar saat mengendarai kendaraan bermotor, baik mobil maupun sepeda motor, tak menggunakan telepon. Ia khawatir hal itu dapat membahayakan keselamatan. “Begitu juga saat menumpang pesawat terbang, karena dapat mengganggu komunikasi pesawat,” tuturnya.

Keempat, tak berbicara keras-keras saat menelepon. Seorang Muslim hendaknya merendahkan suaranya ketika bertelepon, yang penting bisa terdengar olehorang yang dihubungi atau menghubungi. “Tak sepantasnya mengangkat suara keras-keras ketika berbicara, karena bisa saja menyakiti pihak yang dihubungi. Allah SWT berfirman dakam surah Luqman ayat 19″… Dan rendahkanlah suaramu…”

Kelima, matikan telepon genggam ketika masuk masjid. Menurut Syekh Sayyid Nada, seorang Muslim hendaknya mengusahakan agar telepon genggam tak berdering ketika seseorang berada di dalam masjid saat shalat. Suara dering telepon dapat mengganggu kekhusyukan orang lain yang sedang shalat dan zikir. Untuk itu, sebaiknya seorang Muslim mematikan telepon genggamnya saat akan memasuki masjid.

Keenam, mengikuti ketentuan syariat jika perlu meninggalkan pesan suara. Apabila merasa perlu meninggalkan pesan suara di telepon, kata Syekh Sayyid Nada, hendaklahmelakukannya menurut ketentuan-ketentuan syariat. Misalnya, memulai pesannya dengan salam, kemudian mengingatkan orang yang menghubunginya untuk meninggalkan nama, alamat, sebab dan lain-lainnya. Setelah itu, akhiri dengan salam.

Ketujuh, mengajari anak-anak untuk menggunakan telepon apabila dibutuhkan. Seorang Muslim hendaknya mengajari anak-anak yang sudah mumayyiz (dapat membedakan antara baik dan buruk) cara menggunakan telepon untuk keperluan-keperluan mendesak atau darurat. Syekh Sayyid Nada menambahkan, agar para orangtua mengingatkan anaknya untuk tak menggunakan telepon, kecuali untuk kepentingan darurat.

Kedelapan, tak menguping pembicaraan orang lain. Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa menguping pembicaraan orang lain sementara mereka tak menyukainya, maka akan ditungkan cairan timah pana pada kedua telinganya…” (HR Ath-Thabrani).

Selain dari hal-hal mengenai adab umum bertelepon, bagi penerima telepon juga ada adabnya. Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Syayyid Nada dalam kitab Mausuuatul Aadaab at-lstamiyah menjelaskan beberapa antara lain,

Pertama, jangan membiarkan telepon berdering berkali-kali tanpa dijawab. Seseorang yang membiarkan telepon berderingberkali-kali tidak dijawab tanpa alasan bukanlah akhlak seorang Muslim. “Kecuali dia tahu dengan yakin siapa yang meneleponnya dan tidak ingin menjawabnya karena sebab-sebab tertentu,” tuturnya. Sebab, barangkali ada orang yang menelepon tersebut adalah orang yang ingin meminta tolong kepadanya atau kerabat yang ingin mengunjunginya. “Tidak menjawab telepon, sama saja tak membukakan pintu kepada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Padahal bisa jadi orang yang mengetuk pintu itu sedang kesusahan dan butuh pertolongan.”

Kedua, Seorang wanita jangan menjawab telepon ketika baru bangun tidur. Menurut Syekh Sayyid Nada, sebagian besar wanita suaranya sangat lembut ketika baru bangun tidur, yangmengesankan dia masih malas dan mengantuk. Jika ia mengangkat telepon dan laki-laki yang menghubunginya memiliki penyakit di dalam hatinya, maka suara wanita tersebut bisa membangkitkan syahwat.”Oleh karena itu hendaklah wanita yang baru bangun tidur tidak menjawab panggilan tersebut,” ungkap Syekh Sayyid Nada. Mengutip Alquran, dalam surah Al-Ahzab ayat 32, Allah SWT berfirman, “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” Namun, kata Syekh Sayyid Nada, jika wanita tersebut tegas suaranya, sehingga tidak terdengar mendesah, maka tidak apa-apa dia menjawab telepon.

Ketiga, tak membiarkan anak kecil menjawab telepon. Sebagian orang membiarkan anak kecil yang belum baligh menjawab telepon. Padahal anak kecil sering tidak memahami perkataan orang dewasa yang menelponnya. Dia pun mungkin tidak mengetahui siapa yang diajak berbicara. Padahal mungkin orang yang menelepon tersebut mau membicarakan sebuah masalah penting dengan segera. “Jika yang mengangkat telepon anak kecil, maka malah akan menimbulkan mafsadat,” tutur Syekh Sayyid Nada. Bahaya yang lebih besar akan mengancam, kata dia, jika ternyata yang menelepon anak kecil tadi merupakan orang iseng yang menanyakan nama ibunya, kakak perempuannya, dan tentang orang-orang di rumah. Mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut ditanyakan untuk tujuan yang buruk sehingga menimbulkan bahaya besar.

Keempat, menjawab telepon dengan mengucapkan kata “siapa”? Jika telepon berdering, maka yang menerimanya harus menanyakan identitas si penelepon. Sesungguhnya orang yang menelepon sama saja dengan orang yang mengetuk pintu rumah. Termasuk sunah untuk menanyakan siapa, saat ada orang yang mengetuk pintu rumahnya.
Sebagian orang ketika mengangkat telepon sering mengucapkan salam duluan kepada orang yang meneleponnya. Sehingga berubah peran keduanya. Padahal orang yang menelepon itu sama kedudukannya dengan orang yang mengetuk pintu, maka dia yang seharusnya mengucap salam terlebih dulu.

Begitulah beberapa adab bertelepon yang kadangkala kita lupakan atau memang kita tidak mengetahuinya. Menelepon dengan mengucapkan salam-pun, diperlukan hanya pada saat kita yakin orang yang kita telepon adalah muslim. Sedangkan menjawab telepon publik dari kantor yang menerapkan nilai-nilai islami, misalnya bank syariah, lembaga keuangan islam, lembaga pendidikan islam, maka mengucapkan salam terlebih dahulu diperbolehkan karena merupakan default kondisi organisasi dan perusahaan serta menegaskan bahwa memang benar, yang dihubungi adalah institusi berbasis Islam.
Sehingga, asumsinya yang menelepon sadar betul bahwa akan dijawab dengan salam “Assalamu’alaikum” akan tetapi, lebih elok apabila juga mengucapkan salam yang berlaku umum, setelah mengucapkan Assalamu’alaikum sebagai default jawaban customer service yang biasanya menangani nomor telepon hotline perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *